opera, ingatan dadakan soal asrama

Comments Off

beberes aayh!

pagi ini saya berniat untuk beberes rumah. mendadak saya ingat istilah lawas itu: opera. shoot!

aktivitas beberes rumah memang menyenangkan. dalam hitungan jam, saya bisa seperti kerasukan ‘dewi babu’ lantaran gesit gosok sana gosok sini. oouch!

mulai dari membereskan isi tas. yaps, saya agak berantakan dalam hal ini. meski handheld dan ipod touch ada di wadah yang sama, tetapi kertas-kertas dan permen dan catatan kecil dan ipod classic plus recorder dan buku dan dompet membaur bersama :)

belum ditambah kabel charger ipod blackberry dan yang jadi kriting karena hanya saya untel-untel dan mak cemplung di dalam tas.

sesudahnya, dua kamar. mulai dari membereskan buku di sebelah ranjang, dan juga pernik di dekat teve. lalu, ruang ganti baju *jiiyaahhh … sok punya ruang ganti baju* saya harus memilah mana yang harus saya setrika dan tidak. sesudahnya, dapur dan kamar mandi. mulai dari ngosek jamban, nguras bak mandi, membereskan sampah hingga merapikan toples. oouch!

bagian terahkhir ini yang paling saya suka: ngepel! abisnya terasa super duper bersih sesudahnya.

berasa opera bener. :) )

istilah itu saya dapatkan saat dua tahun membenamkan diri dalam kubangan yang bernama asrama van lith di muntilan.

ya, opera itu istilah untuk beres-beres. bersih-bersih. kalau opera besar, berarti membereskan unit (asrama) di seluruh lini. mulai dari mberesin kamar, dapur, ruang cuci, gudang, ruang belajar, ruang ganti baju, sampai sekitarnya dah. sementara itu, kalau opera kecil, ya yang ringan-ringan saja, tanpa usaha ekstra keras.

paling susah kalau dihukum sama suster asrama karena melanggar peraturan. ya, hukumannya adalah opera. duh duh duh …

memang, tak banyak yang saya ingat dari dua tahun di kubangan itu. saya sudah meminggirkannya jauh-jauh. :) )

hanya saja, opera pagi ini terasa menyenangkan. saya melakukannya dengan riang dan ringan. :)

ruangan bebas teknologi

Comments Off

kabel-kabel yang menjulur, gadget yang bejibun … rasanya sulit ditemukan pada satu dekade silam.

setidaknya di rumah saya. ya, di rumah saya di bumijo, jogja. piranti yang berteknologi, paling banter adalah televisi, telepon dan radio.  alat pemutar musik, ponsel, laptop, perkakas yang computer-related juga nyaris tidak terangkut ke rumah saya.

tapi satu dekade mengubah segalanya.

blender, microwave, hair dryer, penyedot debu, ponsel, mesin kopi, pemanggang roti, pemutar musik, pemutar film, loud speaker, laptop, kamera …. menyesaki ruang tengah.  kabel-kabel menjuntai tanpa unggah-ungguh dan tata krama ala jawa.

semaju apapun teknologi, nyatanya telah mengikis perbincangan, meminimalkan perjumpaan dan menggerus kehangatan.  selebihnya, kehidupan sosial yang tak lagi legit.

saya butuh ruangan yang bebas teknologi.  tanpa blender, tanpa microwave, tanpa hair dryer, tanpa penyedot debu, tanpa ponsel, tanpa mesin kopi, tanpa pemanggang roti, tanpa pemutar musik, tanpa pemutar film, tanpa loud speaker, tanpa laptop, tanpa kamera.

hanya saya, dan perbincangan kecil yang hangat.

tanpa remote, tanpa kabel, tanpa charger. tanpa teknologi.

karena jogja adalah sebuah cerita

Comments Off

pagi ini saya membungkus dua lembar kertas tipis berukuran besar.

perjalanan yang sama, ke jogja. “dua minggu ke depannya juga sudah liburan panjang lebaran, kenapa pulang?” tanya seorang kerabat.

ya ya ya. dua minggu kedepannya juga sudah liburan panjang, memang. hanya saja terasa ada yang ganjil kalau tidak menghabiskan ujung minggu di jogja. atau, tidak bersibuk-sibuk untuk menyiapkan tiket di awal minggu untuk kembali ke jogja.

ada kasur empuk di rumah; lebih empuk dari kasur di rumah sewa di palmerah. juga, ada dapur mungil untuk –minimal– merebus air dan membikin kopi susu. juga, ada meja cilik yang memuat mesin kopi, membikin satu-dua gelas untuk menemani menulis atau membaca donal bebek. juga, ada acara-lupa-mengunci-pintu yang sering terjadi saat semalam merebahkan tubuh di kamar; sementara lampu masih terang benderang dan kunci masih menggantung di handel pintu bagian luar, dengan pintu terbuka.

bromo adalah perjalanan bersama teman untuk bertemu dengan teman. dan jogja ada cerita lain.

pun, saya bosan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan kepulangan saya. kenapa pulang ke jogja tiap minggu? kenapa harus pulang? kenapa rumah nggak dikontrakin aja? kenapa nggak sewa pengurus rumah? blahblahblah …

karena jogja adalah sebuah cerita.

pulang, memanggil kehangatan

3 Comments

rumah2

saya pulang. rumah jogja yang hangat menanti saya. sejumlah keceriaan yang mencuat dari ujung bibir yang tertarik keatas tak bisa menunggu.  happy long weekend! :)

… well i’m going home, back to the place where i belong, and where your love has always been enough for me… ~chris daughtry

jogja dingin

Comments Off

jogja dingin.

ini hanya bisa saya cecap saat musim panas tiba. yaps, saat musim panas, justru udara malam lebih terasa mencengkeram; sementara semilir angin terasa lebih menampar; dan gelapnya cakrawala terasa lebih pekat.

jogja yang dingin membikin saya malas beranjak. sudah, begini saja. dirumah saja. merebah pada kursi karet panjang, kursi yang sesungguhnya didesain ayah untuk ibu yang mendadak ambruk sembilan tahun silam. menghangat pada dua bantal batik kecil, menyangga tubuh agar tak ngilu membentur besi. merapat pada cerita-cerita donal bebek dan reality show di televisi. sungguh, jogja yang dingin membikin saya malas beranjak.

dan saya membungkus tubuh, tenggelam dalam hangatnya selimut bungkusan paolo buat saya tahun lalu. lampu dinding diatas kasur menyorot keatas, memandu indera lihat untuk bisa terus mengetukkan jemari diatas papan kunci blackberry.

hangat.