deuter ultra bike, oye!

Comments Off

bukan susu ultra

ah, sebenernya saya engga berencana membeli tas.

topeak yang biasa saya cantelkan di handle bar, dan tumi maupun eddie bauer sling bag yang saya cantelkan di punggung, sudah lebih dari cukup untuk bersepeda dari rumah ke kantor.

ketiganya serupa: mungil, apa adanya, simpel. selebihnya, desain yang cihuy, awet dan mengangkut seperlunya.

gara-gara abang mengajak ke tandike, saya jadi ikutan melirik tas warna kuning-oranye yang mejeng di papan pejengan.

nyatanya, engga banyak bedanya. mungil, apa adanya, simpel. selebihnya, desain yang cihuy, awet dan mengangkut seperlunya.

dan rupanya tas ini didesain untuk para pesepeda. pengait bahunya ringan, transparan. tak bakal menjadi penampung keringat di bahu sepanjang kaki menggowes dari cidodol hingga pabrik kata-kata ini. H20 nya juga bisa memuat satu liter. di bagian depan, ada ekstra lampu kelap-kelip; memberi tanda pada bajaj dan angkot agar tidak menyeruduk sembarangan.

sedappppp … :p

dahon ban 20″ dan ban 16″

Comments Off

suka yang lebih besar

sebulan terakhir saya meminjam sepeda abang.

dahon vitesse d7 dengan ukuran ban 20″. menyenangkan, dan gelindingannya terasa berbeda dengan csl ban 16″ milik saya. bergantian menggunakannya saban hari, pun rasanya jadi kagok saat menggowes keduanya.

nyatanya sepeda lipat ban 20″ lebih nyaman ketimbang ban 16″. rasanya lebih kokoh genjotannya, mantap gowesannya. *halah*

saya pun berpikir membungkus sepeda 20″ saya di rumah, ROO D7; sepeda yang umurnya hanya selisih satu-dua minggu dengan viesse d7 milik abang.

saya hanya perlu memasang carrier, agar tas pak pos saya yang berwarna kembang-kembang dan polkadot itu bisa mewadahi semua perkakas saya.

juga, fender untuk menampik semprotan kotoran jalanan yang menyiprat ke punggung.

ada yang mau menggowes dengan saya?

habis primal terbitlah nike

Comments Off

biar kagak item

saya masih ingat persis kapan saya membeli arm warmer atau thermal sleeves: usai saya menggudangkan kisah merah jambu yang telah saya rangkai bersamanya selama empat tahun.

dus, semahal apapun thermal sleeves itu, saya bungkus dah.  kebetulan, mereknya primal; gambarnya tatoo naga berwarna. pokoknya superkeren dah. dipake engga melorot-melorot, juga ademan.

waktu itu abang, kolegadi pabrik kata-kata ini, dan juga saya, berburu asesoris sepeda ke tangerang. mm … tokonya apa ya,  saya kok engga ingat. karena mereka sedang melihat, menawar, menebak dan mencatat soal frame sepeda MTB, saya putar-putar lihat asesoris.  dan saya menemukan primal yang superkeren itu.

senengnya! entah, sensasi belanja meminggirkan rasa sedih saya walau sebentar.

saya memakainya untuk menahan panas saat bersepeda. well, kadang juga kalau malas pakai jaket saat berkendara motor, saya juga menggunakannya.  biar engga item! :)

dua tahun lewat, dan abang membungkuskan saya arm warmer nike. yaaay!!! “aku inget, kamu tempo hari nyari thermal sleeves yang kayak primal dulu …” katanya.

ember. *makasih ya. makasih banget. bener lo kang, makasih!*

habis primal terbitlah nike. kali ini, tanpa ada acara patah hati. :)

bersepeda, mengurai lelah

Comments Off

gowes maaang ...

saya bosan mendapatkan pertanyaan yang itu-itu saja; kenapa engga pakai motor?

ya, saya memang engga begitu suka melajukan kendaraan bermesin roda dua di jakarta. keriuhan di jalanan, rasa terburu-buru dan desakan untuk misuh membikin saya enggan.

bersepeda, nyatanya lebih menyenangkan.

saya harus beryukur dengan dahon yang saya punya, yang kemudian mengantarkan saya pada ke-legowo-an untuk menggowes di sepanjang pabrik kata-kata di kebayoran lama-cidodol.

tak perlu buru-buru untuk menggowes sepeda. jika jalanan menggelinding turunan, biarlah ban menggelinding lebih cepat; secepat kehidupan yang terus berputar dan terus berputar. jika jalanan menanjak, biarlah pedal menyokong tubuh untuk terus melajukan sepeda; selaju semangat untuk menulis dan berbagi.

sepeda tak bisa mengejar mikrolet 09 yang mendesak jalanan; atau land rover yang gagah menantang jalanan. sepeda menggelinding sesuai kekuatan dan keteguhan semangat.

tak perlu buru-buru. terus mengayuh sepeda, menggowes kehidupan. butuh 15 menit untuk sampai rumah dari pabrik; dan barangkali hanya 7 menit jika ditempuh dengan kendaraan bermesin.  tak apa, saya menyukai waktu yang berjalan melambat, karena saya menghabiskannya untuk mengurai lelah.

kembali bersepeda

Comments Off

keluar kandang

kepindahan ke hunian baru membikin saya harus mulai bersepeda kembali. iya, gowes ewes ewes … :)

lama engga nyepeda, dan hanya diparkirkan di kolong meja saja.  selebihnya, ya menjadi pajangan menarik saat cuatan kalimat dan buncahan paragraf menjadi hal yang menyebalkan.

awalnya adalah soe yang belum kembali dari vietnam. juga, engga ada angkutan bermesin yang mengusung saya dari rumah ke kantor, pp. beli motor baru? mm … sebenernya saya justru menghindari naik motor ini. :p capek, dan ngeri. :) )

jika jalanan engga macet, ternyata hanya butuh sekitar 15 menit dari rumah ke kantor. rute pagi, melalui turunan dan tanjakan yang bebas polisi tidur meski engga bebas mikrolet 09A. sebaliknya, saat malam, melalui turunan dan tanjakan yang engga bebas polisi tidur. alasannya, malas kalau pagi hari harus ngerem-ngerem karena polisi tidur.

pagi hari, pemandangan cukup menarik. mulai dari penjual makanan jajanan, buah-buahan hingga tukang tambal ban. kalau malam, ada tambahan warung pecel lele dan juga sate ayam. duh duh duh …

kring kring … ada yang beriringan cidodol-kebayoran lama?