“kalau lagi pesta, kita ini seperti salah kostum,” ujar encis. memang, kami salah kostum. hanya saya dan encis. selebihnya, moko dan congli, mereka menggelindingkan sepeda dengan enaknya. ya, soalnya saya dan encis menggowes sepeda lipat, sementara congli dan moko mantap menjejak pedal mtb. sementara itu, medan yang dilalui sebagian besar adalah tanah bebatuan dengan turunan [...]
Comments Off »
Read the rest
saya masih ingat betul bagaimana eny dan nino tergelak saat saya bilang saya akan bawa sepeda ke malang. barangkali terdengar lucu, dan aneh. saya belum pernah ke malang, dan dengan pede akan mengusung csl. apalagi, saya juga tidak tahu kontur daerah di malang. “ica aja kalau akan pulang kerumah selalu teriak, maaaa geret! …” ujar [...]
Comments Off »
Read the rest
saya heran dengan stiker kecil yang ditempel di boarding pass saya. cuilan kertas itu dibubuhi dengan stikel bulat kecil berwarna biru dengan tulisan ‘middle row’, menunjukkan bahwa saya memiliki kursi di bagian tengah di pesawat GA290 yang saya tumpangi untuk menjumpai nino, eny, ica dan juga gita. saya menanti dengan sabar panggilan pemegang boarding pas [...]
Comments Off »
Read the rest
saya membungkus satu sepeda lipat lagi untuk subleki. bukan, bukan, bukan saya yang membelinya. tapi subleki-lah yang membelinya agar bisa menggowes seru dengan suaminya, akbar. wah wah wah. menyenangkan. ita memilih sepeda urbano dari polygon. sepeda lipat, ban 20″, berwarna putih dan hitam. kami barusan mengambilnya di kantor pusat. “asik black, gue bisa main sepedaan [...]
7 comments »
Read the rest