Aug 04
Femi Adikubikel, ragam cuatan jakarta, sahabat, tarot, teman

it shocking me!
perjumpaan kecil semalam membikin hati ini meranggas, siang ini.
seperti terempas. saya mengintp kecil apa yang terjadi besok pada kehidupan saya. ya, dari kartu tarot dan kemampuannya yang bisa membaca saya.
dan molen yang saya bungkus dari pak kue pak ini pun tidak terasa enak. bahkan, menelannya pun tidak mudah.
ini soal hidup. apapun hasilnya, nyatanya membikin saya tidak happy. tapi, saya tidak bisa menolaknya.
seperti membuka jendela yang diusung doraemon, saya melihat besok. dan saya tidak bisa menarik ujung bibir ke atas.
“is it my life, tomorrow?” sergah saya.
saya meminggir sejenak. merenung.
barangkali saya harus melihatnya dari sisi yang lain. saatnya berbenah diri.
Aug 02
Femi Adicerita bumijo, cerita pjka jakarta, jogja, kadal basi, munggur, sahabat, singapura, stasiun tugu, teman

thanks kang kb!
saya terharu.
kang kadal basi mengantarkan dan menemani saya hingga ular besi ini berarak meninggalkan jogja. hayyyy … hati saya rasanya kemrenyes. duh duh duh …
tidak ada yang pernah mengantarkan saya pada tempat yang selalu bikin hati saya campuraduk ini, ya, stasiun ini. mungkin lima tahun lalu, atau enam tahun lalu, saat laki-laki dengan genggaman yang hangat itu mengecup hangat pipi dan kening saya di stasiun, dan sesudahnya menghilang tak ketahuan rimbanya.
dan saya tak pernah meminta siapapun untuk mengantarkan saya pada stasiun yang selalu mengeduk memori buruk itu.
tapi janji temu dibikin sejak sabtu kemarin, dengan kang kadal basi. kami bakal bertemu di stasiun tugu ini, tepat jam 10 malam. “aku pakai jaket ungu ya …” katanya. aduh, seperti blind date!
seorang laki-laki muda sempat memanggil saya, dan membikin saya ketakutan setengah mati. meski ini ‘hanya’ jogja, tetapi tempat publik dan panggilan yang tak ketahuan juntrungnya selalu membikin saya paranoid. More
Jul 31
Femi Adicerita pjka, friends from heaven jakarta, jogja, kereta, pjka, PT KAI, teman, travelling, weekend, winda

engga sengaja!
hanya selisih tahun, persisnya, selisih 12 tahun.
tapi apa mau dikata. ini adalah perjalanan yang terbilang unik. saya bertemu dengan perempuan yang memiliki tanggal lahir yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang berbeda. dengan selisih tahun yang ada, kami memiliki shio yang sama. ini adalah kebetulan, kalau tak hendak dibilang sudah terencanakan oleh Si Empunya Hidup.
kami berkereta ke jogja, untuk tujuan yang berbeda. seperti biasanya, saya selalu minta duduk di kursi A atau D. apesnya, ya B atau C yang mudah tersepak oleh tas besar pelancong, maupun pantat yang kemana-mana. tapi, kali ini saya mendapatkan kursi yang dekat jendela di kereta argolawu tambahan.
” … maaf, mengganggu sebentar. tapi, itu apa ya?” tanyanya, menunjuk iPad yang tengah saya mulai mainkan untuk menyingkirkan kebosanan. sumpah, terbangun dengan srengenge yang begitu terang dan ternyata masih di purwokerto, membikin bosan kian menumpuk.
namanya winda; ibu dua anak sekaligus karyawan di kawasan segitiga emas jakarta, di kuningan. usai saya bilang soal iPad dan aplikasi yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar, pertanyaan yang menggelikan muncul: “ada filateli juga?”
aih. filateli.
kesenangan lama saya yang terabai oleh kesibukan-kesibukan kecil yang menggunung; ditambah dengan kemudahan berjejalin melalui serat-serat elektronik. hingga, hanya menyisakan kiriman kartupos untuk kang kadal basi di singapura, indah di kota kembang, dan beberapa kolega di tebaran benua.
ia pun membeberkan koleksinya; dengan porsi terbanyak dari australia. ia juga menuturkan keluarganya; dua anak perempuan yang manis dan juga suami yang mahir beladiri. “ini perjalanan berkereta saya pertama setelah tahun … tahun 2000!” katanya, setengah terkejut dengan waktu-yang-ternyata-bergitu-lama. ow!
perjalanan berkereta yang harus tertunda sekitar 3 jam akibat ada kereta yang anjlok di stasiun manggarai, nyatanya tetap menyisakan perjalanan yang menyenangkan.
“… nomer belakangnya 4480 karena saya lahir pada 4 april 1980,” terang saya, sambil menunjuk nomer seluler yang saya bagikan untuknya.
ia hanya mengangguk sembari tersenyum. namun dalam hitungan detik, ia langsung terperanjat. “eh, apa? 4 april 80?” tanyanya, mendesak. ia mengulurkan tangan, menyalami saya. “saya 4 april tapi 12 tahun lebih awal,” katanya.
aduh. OMG!
Si Empunya Hidup begitu baiknya. mengantarkan saya pada begitu banyak orang yang menyenangkan dan membikin saya bisa menebalkan pengalaman.
dan satu lagi, Si Pemilik Hidup juga mengantarkan saya pada winda, ibu dua anak sekaligus kolektor perangko yang melajukan tubuhnya yang mungil dengan langkah yang begitu cepat dan malam itu ‘kesasar’ ikut KRL ke kota dalam perjalanannya ke jogja.
*nice to meet you!*
Jul 23
Femi Adifriends from heaven, kubikel jakarta, KONTAN, kubikel, online, reporter, sahabat, teman, wartawan, website

mulainya dari sini
ini bukan pertemuan pertama, tetapi kedua. tetapi, ini pertemuan pertama setelah sistem anyar ini menggelinding.
spaghetti, rogohan ponds yang bersembunyi entah dimana, hingga jendela yang dibuka sedikit; adalah pertanda keriangan dan semangat baru. yay, ini dunia baru kami. kami saling meraba. saling membuka. dan mencatatkan sejarah.
nyatanya, banyak yang dikeluhkan. soal ini-itu. soal ini-itu. juga, ada yang dibanggakan. soal ini-itu, soal ini-itu. disinilah saya tahu persis bagaimana belajar menunggu, bersabar dan berhitung.
tapi saya senang melihat mereka terlihat bersemangat; setidaknya mempertahankan semangat mereka untuk tetap terlihat bersemangat. di dalam sana, mereka harus mengubah pola hidup. menggeser kebiasaan. sekaligus mempercepat langkah.
tidak mudah memang; tapi entah darimana keyakinan itu datang, saya yakin mereka akan melampauinya. pun saya.
jika gelindingan hidup anyar yang kami alami saat ini nantinya berbuah bagus, ya berarti ini menjadi hal yang mengesankan dan menakjubkan. sebaliknya, bila nantinya berbuah jelek, ya berarti ini adalah pengalaman berharga yang bisa kami petik.
terimakasih untuk seluruh upaya dua minggu pertama ini.
Jul 18
Femi Adifriends from heaven, kubikel jakarta, kubikel, meja, sahabat, teman, wartawan

monggo, yang kumplit ada di kubikel femi
yes!
melce, kolega saya di pabrik kata-kata ini sudah mengabarkan sebelumnya: kubikel L saya baru. yay, tepatnya, kubikel L kami baru.
terima kasih, terima kasih.
akhirnya saya memiliki kubikel L ini kembali. yah, memang agak berbeda dengan kubikel lain di lantai dua. lebih pendek, lebih mini. tapi apapun itu, tetap harus disyukuri to?
saya memilih kubikel yang dekat dengan jendela. soalnya, biar bisa melihat dunia.
yay, pencakar langit ada di sebelah sana, sana dan sana. sementara itu, saya menghuni lantai tertinggi di pabrik kata-kata ini: lantai tiga!
kepanikan sempat menyergap, saat saya terindikasi tidak menghuni pinggir jendela. usak-usek-usak-usek. yayh! akhirnya saya ada di sebelah sini, persis meja yang berseberangan dengan didi mengabdi, dan bersebelahan dengan alek marelek.
dan lagi-lagi, kubikel saya ini sarat dengan perkakas yang penting dan sangat penting: kunci L sepeda, obeng nomer 9 buat sepeda, mug starbucks, koleksi teh, kentang, kabel data, payung, jas hujan, selimut, alas tidur, saringan kopi dan teh, salib … ow ow ow …
eniwei, terima kasih untuk melce yang men-set up cpu untuk ada di bawah, sembunyi di kolong bersama sepatu merah saya. barusan, saya mengangkut beberapa perkakas kuliner saya yang lain: saringan teh, bandrek hanjuang, sekoteng. selebihnya, bantal gulung untuk meringkuk di kolong meja.
o ya, kubikel L anyar saya ini strategis. meski engga bisa sebentar tidur, tapi saya bisa sebentar ngolong, seperti yang jamak saya lakukan hingga tahun 2008 silam.
bagaimana, ada yang mau ngolong sama saya? :p
Older Entries