<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Femi Adi Soempeno &#187; tipes</title>
	<atom:link href="http://femiadi.com/tag/tipes/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://femiadi.com</link>
	<description>when writing the story of your life, don&#039;t let anyone else hold the pen</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 09:03:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>belimbing dan kenangan dengan ayah</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Sep 2008 02:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bingkisan]]></category>
		<category><![CDATA[buah]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[sakit]]></category>
		<category><![CDATA[tipes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1143</guid>
		<description><![CDATA[jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang. Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah. Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>jantung saya terasa mau berhenti saat mendapatkan sekeranjang buah dari teman. Belimbing. Ya, belimbing. Bukan belimbing wuluh, tetapi belimbing bintang.</p>
<p>Belimbing selalu mendekatkan saya pada ingatan akan ayah.</p>
<p>Sejak kepindahan kami sekeluarga 20 tahun silam ke Bumijo, ada pohon yang selalu dirawat dengan baik oleh ayah, yaitu belimbing bintang. Pohon ini ada di ‘rumah kecil’, begitu kami biasa menyebut. Pohon ini dulunya kecil, bahkan saya tak pernah mengira akan berbuah manis hingga ayah tutup usia, dua tahun silam.</p>
<p>Ayah rajin merawatnya, memberinya ruang untuk mengokohkan akar. Hingga batangnya mengeras, dedaunan merindang dan membikin pelataran kecil di rumah kecil menjadi teduh. Sesekali, batang pohon belimbing menjadi latar belakang untuk acara potret keluarga.</p>
<p>Belimbing berbuah. Ayah tak pernah sanggup untuk memetiknya sendiri. Dan ayah membikin ‘sengget’ alias bilah bambu panjang dengan pisau di bagian ujung untuk memotong buah belimbing yang matang agar terjatuh dan bisa ditangkap dengan tangan. Selebihnya, ayah juga yang paling rajin memungut belimbing yang berjatuhan, membersihkannya, dan mengiriskannya untuk kami.</p>
<p>Bunga pohon belimbing kecil, dan sangat mengotori pelataran. Dedaunan yang kuning dan mengering usai musim panen belimbing, tak kurangnya membuat ayah bekerja lebih giat agar pelataran tetap terlihat bersih. Dan ayah tak pernah mengeluh.</p>
<p>Belimbing yang ada di tangan saya ini selalu mengingatkan saya pada ayah. Yang setia pada semua tanamannya. Yang mencintai tanamannya. Yang merawat kehidupan untuk semua tetumbuhannya. Termasuk belimbing. Ulat dalam belimbing yang membusuk disingkirkannya agar kami bisa tetap makan buah belimbing dari kebun sendiri. ayah selalu mengiriskan untuk kami.</p>
<p>Ayah pergi, belimbing pun mati. Bulik tidak seperti ayah. Dia benci tanaman. Semua tanaman ayah dimusnahkan, termasuk belimbing.</p>
<p>Semoga ayah tidak marah ya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/21/belimbing-dan-kenangan-dengan-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>akhirnya opname juga</title>
		<link>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/</link>
		<comments>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Sep 2008 22:12:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Femi Adi</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerita bumijo]]></category>
		<category><![CDATA[friends from heaven]]></category>
		<category><![CDATA[opname]]></category>
		<category><![CDATA[panti rapih]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>
		<category><![CDATA[tipes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://femiadi.wordpress.com/?p=1131</guid>
		<description><![CDATA[Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif. “Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan. Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selembar kertas putih hasil laboratorium sudah memastikan, bahwa saya positif tipes dengan hasil cek imuno 6 alias indikasi kuat infeksi typhoid aktif.</p>
<p>“Mau opname di rumah sakit atau rawat jalan?” tanya internis rumah sakit Panti Rapih, dokter Sidharto. Ada opsi rawat jalan, ya saya memilih untuk rawat jalan.</p>
<p>Usai mengantongi tiga jenis obat, saya belanja asupan sehat. Mulai dari susu beruang, pocari sweat, UC 1000, ayam kampung dan sayuran segar. Saya siap merawat diri saya sendiri di rumah. Konon, penyakit tipes ini hanya butuh istirahat yang sangat istirahat. Pendeknya, ya menjadi pemalas di rumah.</p>
<p>Tapi hitungan saya meleset. Saya bukannya membaik, malah semakin terkapar selama semalaman mencoba rawat jalan. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengerahkan sejumlah teman dekat untuk membantu saya. *thanks untuk yani dan joko*</p>
<p>“Suster, saya minta makan,” kata saya pada suster perawat di ruang transit, usai jarum infus menusuk tangan kiri saya. Dan yani uring-uringan. “Ih, malu-maluin!” lhah, tapi bener. Saya sungguh kelaparan sejak saya memberikan rebusan ayam dan nasi lembek pada bulik, dan penjual gudeg terbalik menyodorkan nasi putih dengan gudeg, pada yani.</p>
<p>Ah, akhirnya saya opname juga, di ruang Carolus 5, kamar 512. Ini pertama kalinya saya opname.</p>
<p>Terima kasih untuk kerabat yang menemani saya selama terkapar di rumah sakit. Paimun, yang dua malam menghabiskan malamnya di ranjang sebelah. Kunto yang membelikan ekstrak cacing dan menjemput saya untuk pulang. Juga kunjungan dari kerabat Galangpress, keluarganya yani, keluarganya mbak ika, keluarganya Lia dan (akhirnya ketahuan juga) kakak-kakak saya.</p>
<p>Terima kasih.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://femiadi.com/2008/09/19/akhirnya-opname-juga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

