Jul 31
Femi Adicerita pjka, friends from heaven jakarta, jogja, kereta, pjka, PT KAI, teman, travelling, weekend, winda

engga sengaja!
hanya selisih tahun, persisnya, selisih 12 tahun.
tapi apa mau dikata. ini adalah perjalanan yang terbilang unik. saya bertemu dengan perempuan yang memiliki tanggal lahir yang sama, bulan yang sama, dan tahun yang berbeda. dengan selisih tahun yang ada, kami memiliki shio yang sama. ini adalah kebetulan, kalau tak hendak dibilang sudah terencanakan oleh Si Empunya Hidup.
kami berkereta ke jogja, untuk tujuan yang berbeda. seperti biasanya, saya selalu minta duduk di kursi A atau D. apesnya, ya B atau C yang mudah tersepak oleh tas besar pelancong, maupun pantat yang kemana-mana. tapi, kali ini saya mendapatkan kursi yang dekat jendela di kereta argolawu tambahan.
” … maaf, mengganggu sebentar. tapi, itu apa ya?” tanyanya, menunjuk iPad yang tengah saya mulai mainkan untuk menyingkirkan kebosanan. sumpah, terbangun dengan srengenge yang begitu terang dan ternyata masih di purwokerto, membikin bosan kian menumpuk.
namanya winda; ibu dua anak sekaligus karyawan di kawasan segitiga emas jakarta, di kuningan. usai saya bilang soal iPad dan aplikasi yang bisa diunduh secara gratis maupun berbayar, pertanyaan yang menggelikan muncul: “ada filateli juga?”
aih. filateli.
kesenangan lama saya yang terabai oleh kesibukan-kesibukan kecil yang menggunung; ditambah dengan kemudahan berjejalin melalui serat-serat elektronik. hingga, hanya menyisakan kiriman kartupos untuk kang kadal basi di singapura, indah di kota kembang, dan beberapa kolega di tebaran benua.
ia pun membeberkan koleksinya; dengan porsi terbanyak dari australia. ia juga menuturkan keluarganya; dua anak perempuan yang manis dan juga suami yang mahir beladiri. “ini perjalanan berkereta saya pertama setelah tahun … tahun 2000!” katanya, setengah terkejut dengan waktu-yang-ternyata-bergitu-lama. ow!
perjalanan berkereta yang harus tertunda sekitar 3 jam akibat ada kereta yang anjlok di stasiun manggarai, nyatanya tetap menyisakan perjalanan yang menyenangkan.
“… nomer belakangnya 4480 karena saya lahir pada 4 april 1980,” terang saya, sambil menunjuk nomer seluler yang saya bagikan untuknya.
ia hanya mengangguk sembari tersenyum. namun dalam hitungan detik, ia langsung terperanjat. “eh, apa? 4 april 80?” tanyanya, mendesak. ia mengulurkan tangan, menyalami saya. “saya 4 april tapi 12 tahun lebih awal,” katanya.
aduh. OMG!
Si Empunya Hidup begitu baiknya. mengantarkan saya pada begitu banyak orang yang menyenangkan dan membikin saya bisa menebalkan pengalaman.
dan satu lagi, Si Pemilik Hidup juga mengantarkan saya pada winda, ibu dua anak sekaligus kolektor perangko yang melajukan tubuhnya yang mungil dengan langkah yang begitu cepat dan malam itu ‘kesasar’ ikut KRL ke kota dalam perjalanannya ke jogja.
*nice to meet you!*
Nov 25
Femi Adiragam cuatan bonn, dw, fun, game, germany, ice skating, jerman, skate, travelling
saya nyaris tak bisa berdiri setelah terjungkal. sialan.
pisau yang membelah kolam beku untuk ladang es ini nyatanya tak mampu menahan berat beban dan ketidakseimbangan tubuh saya. alhasil; gedubrak!
hanya saja, saya enggan berusaha keras untuk bisa meluncurkan badan saya dengan simbang pekarangan beku ini. ya, begini saja. di pinggir, sesekali menerjang kedepan, dan buru-buru mencari pegangan saat keseimbangan hilang.
permainan yang –konon– mulai muncul di sebelah selatan finlandia sekitar 4000 tahun yang lalu ini memang tak cukup cocok untuk saya.
bonn ice, tempat saya menjajal ice skating, memiliki sedikitnya 700 pasang sepatu dengan beragam ukuran. ongkos sewanya untuk orang dewasa sebesar 7,5 euro.
dan saya berhenti dengan begitu cepatnya. saya memilih melanjutkan ice skating di rumah.
Nov 14
Femi Adiplesiran, ragam cuatan airport, baggage, bandara, bonn, frankfurt, germany, jerman, koper, lufthansa, luggage, pesawat, travelling

got the new one (blue, above)
saya sudah khawatir esti, kakak saya, akan ngamuk jika tahu nasib koper merah ini.
tapi ternyata tidak. “aku udah lama pengen membuangnya!” selorohnya. ow! ya, terima kasih.
sebenarnya hanya peyok sedikit. tapi, kerusakan sekecil apapun, tetap saja namanya rusak. entah, tangan mana yang mengangkat koper itu, dan membenamkannya begitu saja diantara koper-koper lain. alhasil, salah satu sudut koper saya peyok dan menyobek bagian kain pembungkusnya. duh.
dan saya langsung melaporkannya pada baggage-tracing lufthansa. padanya saya bilang, kerusakan ini tidak terjadi sejak saya ada di jakarta, transit di singapura, hingga akhirnya peyok itu saya temukan diantara koper-koper lain.
taktiktaktiktaktiktaktik … saya melihat petugas lufthansa menarikan jemarinya di atas papan kunci putih.
“kamu pergi ke bagian ujung, lurus saja dan lihat di sisi kanan. ada bagian koper; temui petugasnya. dia akan melihat koper kamu dan menilai, akan memperbaikinya atau menggantinya dengan yang baru,” katanya dengan bahasa inggris beraksen jerman yang kental; sekental kopi tubruk buatan nenek saya.
terima kasih.
saya memburu sudut bandara frankfurt. dan saya mendapat gantinya. biru, bukan merah. “lebih kecil, kan?” desak esti. iya, iya lebih kecil. berarti saya tak akan bisa membawa begitu banyak barang dari sini.
terima kasih untuk lufthansa, maskapai yang didirikan hasil perkawinan deutsche aero lloyd dan junkers luftverkehr yang aslinya bernama deutsche luft hansa aktiengesellschaft.
Nov 13
Femi Adiasupan gizi, plesiran bonn, dw, eropa, europe, germany, jerman, travelling
saya sudah mengepak barang saya.
sejumlah baju hangat, tights, syal untuk menghangatkan leher dan juga buah tangan untuk sejumlah kerabat. selebihnya, kamera dan juga catatan kecil dengan pena untuk meneken tiket kereta, nomer ponsel lokal dan juga beberapa keperluan kecil lainnya. saya siap berangkat.
bukan ke state, juga bukan ke berlin. tapi bonn.
kota kecil yang hangat. mm … ramah. ya, ramah, meski kali ini saya datang di musim dingin.
kota di wilayah north rhine-westphalia ini terbilang kecil. bahkan, rankingnya ‘hanya’ kota terbesar ke-19. barangkali saya pernah singgah. atau hanya lewat saja beberapa waktu lalu. kota yang tidak jauh dari cologne ini pernah menjadi ibukota jerman barat pada tahun 1949-1990 sebelum akhirya dipindah ke berlin setelah reunifikasi dari tahun 1990-1999. dan yang tersis adalah sejumlah pusat politik dan juga administrasi. sebagai gantinya, bonn mengantingi predikat federal city atau bundesstadt.
dan beethoven pun lahir disini, tahun 1770, sebelum akhirnya pindah ke vienna di usia dua puluhan. ia membikin sejumlah genre musik dengan beragam kombinasi instrumen. ia berkarya untuk symphony orchestra termasuk ninth symphony dan beberapa musik lainnya. ia juga menulis sembilan concerti untuk satu atau lebih solois dan orkestra. satu-satunya opera yang dibuatnya adalah fidelio.
pasti, beethoven bukan hanya ada di bangunan, patung dan juga mural. lebih dari itu, ia juga pasti melekat dalam cokelat dan kartupos.
ya, saya berangkat ke bonn.
Oct 23
Femi Adiragam cuatan bonn, cologne, femi, germany, jalan-jalan, jerman, koln, kolsch, plesiran, travelling
saya mengenakan kemeja dengan sopan, dan berbaris rapi di pelataran kedutaan besar jerman.
ya, saya memburu visa untuk kembali ke jerman, pertengahan bulan november depan. sebentar belajar tentang web 2.0. sembari mencicipi lezatnya Kölsch di Cologne yang pucat, top-fermented dan hanya bisa didapatkan di Cologne. urutan antrian sudah saya dapatkan; nomer 3. yups, bukan nomer yang mensyaratkan keringat dingin selama puluhan menit.
“ada potret lain?” tanya si pemeriksa dokumen. saya pun menyodorkan potret yang sama dengan jumlah yang lebih banyak. tapi si pemeriksa dokumen kemudian menggelengkan kepalanya. “yang seperti itu!” katanya, sambil menunjukkan poster potret-visa-yang-benar.
ya, potret saya sangat berbeda. posisi tubuh saya miring, dengan kepala yang menghadap depan dengan senyum termanis yang saya pasang untuk siapapun yang melihatnya.
saya pun langsung ngabur, ke sabang. “3,5 kali 4,5 senti; 70% kepala!” pesan saya pada gerai potret di sabang.
saya mengamati potret yang dibikin oleh cheppy, kolega saya di pabrik kata-kata. potretnya apik, menurut saya. dengan tatanan lampu yang sempurna tanpa guratan bayangan di kacamata. pun, sore itu saya melihat kesabaran cheppy yang begitu dahsyatnya yang menata lampu naik-turun-miring agar menciptakan gambaran femi yang sempurna.
“lain kali potretnya engga usah pakai kacamata ya. frame-nya terlalu tebal,” kata si penyeleksi dokumen; setelah saya kembali dari sabang dan menyerahkan dokumen dengan potret-visa-yang-benar pada bagian yang lebih berwenang.
whew. salah lagi …
Older Entries